Saturday, October 25, 2008

Puisi Ayahanda Siddiq Fadzil

Tatkala membelek buku 'Mensyukuri NIkmat Menginsafi Amanat', hati tersentuh apabila terbaca puisi beliau berkenaan semangat merdeka generasi muda:

BICARA MERDEKA SEORANG GURU TUA

Lima dasawarsa yang lalu
aku, anak desa yang dungu serba tak tahu
hanya ikut-ikutan melulu
memekik "Merdeka! Hidup Tunku!" bertalu-talu.

Hingga tiba ketika aku berani bertanya
ruh dan makna sepatah kata,
meminta bukti nyata sebuah cerita
"Merdeka".

Kutadah segala madah
kuperah khazanah hikmah
kutemukan daulat karamah insaniyah
mulia perkasa dengan al-izzah.

Merdeka siapa cuma mengenyah penjajah
merdekaku meraih izzah
Deklarasi syahadah: La ilaaha illa Lllah
menyanggah berhala seribu wajah
mengenyah segala bedebah penjajah, penjarah, penjenayah.
Kubongkar pendaman fakta
Kubuka kitab pusaka
Terserlah deretan nama
Wira merdeka bukan Tunku sahaja
ramai yang mendahuluinya.

Mendadak aku bertanya
sejarah bikinan siapa?
Merdekakah kita,
julingkah mata sarjana
apabila tidak bersuara
tentang pahlawan tak dikenang
wira tak didendang?

Lima dasawarsa lamanya
banyak kata belum terkota
banyak lagi rupa tak seindah berita.

Bagi generasi yang semakin tak mengerti
kata merdeka bak mantra yang hilang sakti
dan mereka semakin tak peduli.

Jiwa merdeka sirna ditelan pesta
matilah rasa hilanglah peka
betapapun gegak gempitanya
pekikan Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Tetapi semerta terbelalak mata
bila setan korupsi menggoda,
"Mau duit ka? Mau duit ka? Mau duit ka?"

Gejala pesona yang kian menggila
menginjak takwa menganjak jiwa
merdeka dengan ketuhanan Yang Maha Esa
menjadi hamba kewangan yang "maha berkuasa".

Pada Hari Merdeka yang ceria
kusimpan tangis di balik tawa
kupendam cemas di tengah pesta.
Akan terjualkah merdeka kita?


Siddiq Fadzil,
31 Ogos 2007

2 comments:

ilham nur said...

Nah, kubalas pula dengan puisi Chairil Anwar

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai



Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954

safwanmohamad said...

Terima kasih...